#DohaTrip2017 Day 1-3

Kayaknya gue akan bagi cerita selama #DohaTrip2017 ini ke dalam beberapa bagian since I am staying here for quite a lil’ while. Walaupun jurnal ketinggalan (sigh) tapi gue catet tiap harinya gue ngapain aja. Mostly doing house chores even though in between I got other stuff to do.

Day 1

I just landed in Doha. It was 1.15pm and quite a sunny day. Sekarang masuk Qatar bebas visa, walaupun petugas imigrasi pas gue itu kayaknya kurang yakin kalau Indonesia masuk ke dalam negara yang udah bebas visa. Jadi dia sempet ngeliatin gue lama seperti nunggu gue ngeluarin dokumen lain (mungkin visa yang ditunggu) tapi gue diem aja. Hahaha.. Setelah dia nanya temennya dan kayaknya temennya mengiyakan kalau bebas visa baru deh dia stempel paspor gue. My brother told me he’s gonna pick me up with the kids after school. Karissa and Keinara (later I mention them as K2) surprise liat gue yang dijemput. Walaupun katanya mereka udah curiga kalau gue mau datang. Ngga, emang anaknya gengsian aja kalau mengakui mereka kaget :D. Dari airport langsung ke rumah, K2 hari ini ada les tari di Al-Sadd tapi gue ga ikut anter. Mereka dijemput temennya kakak gue.

Oh iya, setelah sampe rumah gue ngga tidur tapi langsung beraktivitas kayak biasa. Ini gue lakukan untuk meminimalisir jet lag. Perbedaan waktu Jakarta dengan Doha disini 4 jam lebih lambat dari waktu Jakarta. So I force my body to adjust with the local time. Nanti pas malem, udah ngantuk banget baru tidur. Biasanya cara ini ampuh, jadi ga kelamaan jet lag nya. Habis maghrib gue pergi jemput anak-anak, setelah itu makan di Lagenda Holiday Villa up until 9.30pm-ish.

Continue reading

Advertisements

#DohaTrip2017

Hallo! Greetings from Doha, Qatar! Yes, I am currently in Doha, Qatar. Kali ini bukan untuk liburan, but to take care of my nieces while their Mom is still in Jakarta. Jadi kakak gue itu baru melahirkan bulan Juli lalu, belum bisa balik kesini sebelum bayinya umur tiga bulan. Sementara dua anaknya yang besar udah mulai sekolah dari awal September lalu.
Long story short, sementara ibunya di Jakarta dan kerjaan bapaknya bukan yang di kantor weekdays 9-5 (dan tiap hari pulang ke rumah), jadi ga ada yang jagain kalau bapaknya lagi kerja. Gantian lah anggota keluarga yang lain untuk jagain anak-anak ini di Doha. Sebulan kemarin ada kakek dan neneknya, permitnya udah habis karena hanya berlaku satu bulan. Sekarang lagi giliran gue di sini.

By the way, sekarang ke Qatar udah bebas visa ya. Tahun 2015 waktu gue pertama kesini masih harus pake visa. Di 2017 ini udah bebas visa dengan izin tinggal satu bulan.

I’ll update what I am doing here. Mostly doing house chores and taking care of the kids. Masak, siapin segala rupa buat anak-anak. Just like what other people doing here. I guess I act locally :D. Eh tapi gue seneng sih disini, walaupun sekarang cuacanya basian summer yang kadang siang-siang teriknya minta ampun.

And oh, bisa-bisanya gue lupa bawa jurnal. Tapi gue udah catet apa aja yang tiap hari gue kerjain di notes handphone. Mudah-mudahan keburu untuk update pas gue masih disini supaya ga basi topiknya.

That’s all for now, I’ll keep you updated 🙂

Prgnncy Journey: Folikel Test Ke-2

Harusnya folikel test ke-2 ini dilakukan di hari ke-18 haid sesuai anjuran dokter. Tapi waktu mau daftar, di hari itu dr. Cindy ada operasi di RS jadi ngga praktek. Berhubung gue anaknya keukeuh maunya sama dia aja, nggak nyari yang deket rumah, jadi baru bisa ke dokter di hari ke-19. Gue pikir mudah-mudahan gak apa-apa ya beda sehari, hopefully it wouldn’t make a big difference. Sebetulnya sama suster di klinik disaranin kalo mau folikel aja bisa sama suaminya (yang kebetulan dokter kandungan dan praktek di tempat yang sama), tapi gue ngga mau. Gue anaknya konsisten. Alah…

Akhirnya di hari ke-19 balik lagi ke klinik, kali ini ngga bisa pagi karena lagi-lagi paginya dokter ada operasi jadi cuma bisa sore. Jadilah untuk pertama kalinya ke klinik sore dan for the very first time gue ngga dapet nomor urut satu. Hahahaha… Prestasi! Oia, Alhamdulillah berat badan udah turun perlahan tapi pasti walaupun sedikit. Zemangat! Terus baru kali ini juga selama visit dokter, dokternya datang agak terlambat. Harusnya praktek jam 5,hari itu dokter datang jam 5.30. Untung yang nomor 1 dan 2 tindakannya cepet, jadi ngga nunggu terlalu lama. Btw, gue dapet nomor antrian 3.

Continue reading

Prgnncy Journey: If Only I Could Care Less

Hari ini di Facebook nemu postingan ini. Di share sama teman satu tim waktu kerja di Global TV. Kebetulan dulu satu tim, kebetulan sama-sama udah nikah. Kebetulan punya kisah yang mungkin bisa dibilang hampir sama. Bedanya sekarang ikhtiar teman gue itu udah berhasil, sementara gue masih dalam proses.

Sebenernya gue udah ada dalam fase tidak nyaman dengan beragam pertanyaan soal anak. Bukan, bukan karena gue males jawabnya. Dengan senang hati gue akan jawab setiap ada yang nanya. Tapi kadang cara orang-orang bertanya (yang kadang dengan nada judging) yang justru bikin gue sakit hati. Mungkin gue yang terlalu sensitif atau mungkin juga orang lain yang kurang peka dengan hal-hal seperti ini. Gue ngga tau persis.

Entah berapa ratus pertanyaan yang udah gue terima sejak nikah tahun 2014. Isinya kurang lebih sama, “Udah isi belum? Udah punya anak?” and those kinda questions. Ga sedikit juga yang justru berujung judging atau nanya pertanyaan lain yang lebih menyakitkan ketika jawaban yang mereka terima (mungkin) mengecewakan yaitu kalau gue emang belum dikasih keturunan. Ga usah dijabarin lah apa aja reaksinya, ngingetnya aja gue males.

Continue reading

Prgnncy Journey: #3 Folikel Test

Visit dokter kali ini untuk tes ovulasi atau biasa juga disebut folikel. Tes ini dilakukan di hari ke 12-14 haid. Kebetulan kemarin gue di hari ke-13. Folikel tes ini fungsinya untuk mengetahui kondisi sel telur kita apakah baik (secara ukuran, jumlah, dsb) untuk dibuahi.

Seperti biasa gue datang paling pertama, sebelum gerbang dibuka gue udah datang. Hahahaha.. Jadi ya of course dapet nomor urut satu. Untuk yang ketiga kalinya, alias sepanjang gue program gue selalu dapet nomor antrian satu. Emang gue anak Primagama sejati, terdepan dalam prestasi! Anyway, masih sama kayak kunjungan sebelumnya, dr. Cindy selalu datang on time (this is one of the reason why I like her). Ga pake basa-basi gue langsung disuruh duduk di kursinya itu. Di monitor USG bisa keliatan tuh langsung. Hasilnya apa? Eh, wait. Sebelumnya dokter bilang “Target kita ukurannya 2cm ya, Bu. Jadi kita cari yang paling baik dulu”.

Continue reading

Prgnncy Journey: #2 Visit Dokter ke-2

Setelah nunggu kurang lebih hampir satu bulan dari visit dokter pertama, akhirnya kemarin gue ke dokter lagi. Jadwal kali ini untuk cek tuba dan tongga rahim. Oh iya, ke dokter kali ini gue udah bawa hasil laboratorium yang belum dibuka karena gue ngga ngerti bacanya. Hahahaha… Btw, gue lagi program hamil sama dr. Cindy Rani Wirasti, SpOG KFER.

Visit dokter kali ini gue ke kliniknya, ngga ke RS Royal Taruma lagi. Karena untuk cek tuba dan rongga rahim ini dijadwalin di hari ke 5-10 haid, dan kemarin gue datang di hari ke-9 kebetulan jadwalnya ngga cocok dengan jadwal praktek di RS. Di klinik sistemnya sama seperti di RS, daftar bisa by phone lalu nomor antrian berdasarkan kedatangan. Karena gue dan Pandu anaknya rajin (ngga deng, karena takut keburu macet aja soalnya jauh dari rumah) jadi gue dateng kepagian dan jadi pasien pertama yang datang plus dapet nomor urut 1. Yay!

Continue reading

Prgnncy Journey: #1 Visit The Doctor

Hhhmmm.. Never thought that I’d be at this point. Tapi kayaknya beberapa bulan ke depan gue akan sharing pengalaman program hamil yang lagi gue jalanin sama Pandu. Some of you may know that I’ve been married for 3,5 years dan sampai sekarang gue belum dikasih kepercayaan untuk punya keturunan. Sedih? Iya lah, tapi lebih sedih ditanya atau di judge orang macem-macem soal ini. Panjang lah kalau ngomongin soal ini. So let’s just skip this part.

Long short story, gue dan Pandu akhirnya memutuskan untuk ya udah yuk program aja. Step pertama cari dokter. Dari awal gue selalu bilang kalau mau dokter kandungannya perempuan. Alasannya ya agak risih kalo dokternya laki, apalagi sekarang pake hijab. Jadi perasaan tuh gimana gitu kalo dokternya laki. Ini alasan pribadi aja sih.

Continue reading