Mixtape 3: Indonesian Pride

Waaaah.. Udah lama juga ga bikin mixtape. Sebenernya karena lagi jarang dengerin yang baru-baru sih alias playlist gue ya itu lagi itu lagi. Hehehehe… Tapi beberapa minggu belakangan ada yang menarik di playlist gue yaitu tambahan lagu-lagu Indonesia yang ga berenti gue dengerin. There must be something with these songs. And I have to share it with you.. Here we go!

1. Adrian Khalif feat. Dipha Barus – Made In Jakarta

Pertama kali denger lagu ini jujur kayak bukan lagu Indonesia, reminds me a lil’ bit of Craig David back in the days. Gue udah sempet denger soal Adrian Khalif ini tapi belum sempet cek lagunya. Akhirnya suatu hari tiba-tiba keinget dan langsung buka Youtube, and I like it from the very first impression. Ternyata featuring sama Dipha Barus, yaudah lah ya kelar. You might check this one out..

2. Dipha Barus feat. Nadin – It’s All Good

Dipha Barus has a golden hands. Everything he touches just like turns into gold. Iya ngga sih? Dia bikin apa aja bagus kayaknya, kayak Gamaliel. Bikin No One Can Stop Us bagus, bikin remake Aku Wanita-nya BCL juga bagus, terus sekarang si All Good ini. Ngga ngerti gue.. Hehehehe.. Dan iya gue telat lagi denger lagu ini, but turns out I like it and automatically put this one on my playlist. Oh iya, lagu ini ada acoustic versionnya juga dan ga kalah bagus sama original version ini. And Nadin is such a big thing in the near future.

3. Nino & Nagita – Benar Nyata

Wow! Surprise! Single solo pertama Nino RAN ini gandeng Nagita Slavina sebagai temen duetnya. Lagunya sendiri diciptain sama Widi Puradiredja (Maliq & D’Essentials) ga salah emang lagunya typical Widi banget, I can hear it from the first time. And surprisingly Nagita performs really well, asik banget suaranya disini. Ga nyangka juga sih kalo dia bisa sebagus ini di lagu ini, it feels like this song suits them both. Great job, Nino!

4. Gloria Jessica – I Just Wanna Love You

Gloria Jessica stole my attention for the first time when she joined The Voice Indonesia and performs her rendition of Coldplay’s Sky Full of Stars. Tapi justru setelah itu dia ngga lanjut ke babak selanjutnya. But it proves us that it doesn’t have to be a winner to gain success. Single pertamanya Dia Tak Cinta Kamu bisa dibilang lumayan sukses. Gue denger lagu ini pertama kali lewat iklan di Spotify yang cuma secuil itu, tapi dari yang cuma secuil itu justru bikin gue nyari lagu ini. Eh ternyata waktu itu baru bisa di unduh beberapa hari setelahnya, di Youtube juga belum ada. Gue penasaran banget sama keseluruhan lagunya, yang ternyata baguuuuus. You better check yourself..

Advertisements

Tentang Buku

Beberapa waktu lalu gue in a desperate needs of having a new book. Alasannya sederhana, ga punya bacaan baru. Padahal sih ada dua buku yang gue beli bulan lalu tapi belum dibaca. Sempet juga ke toko buku weekend lalu, terus buku yang gue pengen beli harganya super mahal (karena buku impor). Akhirnya gue mikir bisa ngga sih beli buku impor online tapi yang tokonya terpercaya. Lalu gue Googling beberapa toko buku impor yang ada di Indonesia, barangkali sekarang punya layanan beli online.

Akhirnya nemu lah si Periplus online ini, setelah cari judul buku yang gue mau ternyata ada, harganya jauh lebih murah pun. Ya sudah gue coba lah beli di Periplus online ini, ternyata prosesnya lumayan cepat. Dari mulai order sampai bukunya ada di tangan gue cuma makan waktu tiga hari, itu pun karena gue ordernya udah malem kayaknya. Jadi asumsi gue, order gue masuk ke pengiriman besoknya.

Gue tipikal orang yang harus selalu punya bacaan, entah itu buku (novel) atau paling tidak majalah. Walaupun sekarang udah jarang banget beli majalah. But I have to have something to read. Buku buat gue bukan sekedar kebutuhan, tapi juga memori.

Back in the days waktu bokap gue masih ada, kita selalu pergi ke toko buku setiap weekend. Like almost every weekend. Mau jalan-jalan kemana pun pasti mampir dulu ke toko buku. My late Dad once said “You can only have toys once in a while. But you can have books anytime you want”. Bokap gue ngga pernah bilang ngga setiap kali gue minta dibeliin buku. Setiap di toko buku pun bokap ngga pernah membatasi jumlah buku yang gue dan kakak gue beli. Dia bilang ga ada batasan untuk buku, dia selalu ingin anaknya suka baca buku. Seringnya gue beli novel dan kakak gue beli komik.

Kebiasaan ini dibawa sampai sekarang. Sampai kadang Pandu ngedumel karena gue keseringan beli buku. Mungkin dia kesel karena dia ga suka baca buku hahahahaha.. Setiap gue beli buku pasti dia liat-liat buku terus komentar “Apaan sih ini tulisan semua. Ngga menarik. Sekali dibaca udah gitu doang disimpen lagi”. Ngeselin abis.. Akhirnya gue bilang sama dia kalau ini adalah kebiasaan gue dari kecil. Gue ngga pernah dilarang beli buku. Selain itu, dengan tetap membaca (dan beli buku) I feel like I am living a bit of my Father inside me. Itu salah satu cara gue mengingat bokap. Dari situ dia mengerti.

By the way, gue suka baca tapi gue ngga bisa baca komik. I know it’s weird. Ga bisa karena gue ngga ngerti cara bacanya, apalagi kalau komiknya isinya gambar semua ga ada kotaknya. Terus si bubble-bubble tulisannya menclak-menclok. Bye! Makin ga bisa gue baca. Selain itu gue merasa kalo semua tokoh yang ada di komik itu mukanya sama, gue ga bisa bedain. Hahahaha.. Komik yang bisa gue baca cuma Doraemon, Crayon Sinchan sama Monika. Udah itu aja. Dulu pernah beli Candy-Candy, Topeng Kaca dan coba baca Detektif Conan. Ya cuma sampai halaman lima kali bertahannya.

Sebenernya mulai tahun ini gue mulai membiasakan diri lagi untuk rutin baca. At least satu buku per bulan karena beberapa tahun belakangan jujur gue ngga banyak baca buku. Ada keresahan ketika gue yang notabenenya pengangguran ini ngga punya asupan bacaan yang menurut gue cukup. Jadi merasa lebih useless. Hehehehe… Mudah-mudahan gue bisa konsisten ya.

Itulah cerita singkat gue dan buku. Semoga kalau nanti gue punya anak, gue bisa mewariskan lagi kebiasaan ini sama anak gue. Jangan ikut bapaknya yang sukanya cuma baca buku kalo ada gambarnya.

 

Film Posesif

No Spoiler Alert

Beberapa hari lalu gue nonton Posesif, sendiri seperti biasa. Gue keukeuh banget harus nonton film ini di hari kedua pemutarannya. Entah kenapa gue penasaran sama film ini. Selain promonya emang kenceng, gue pengen tau kenapa film ini belum tayang di bioskop (besar) tapi udah dapet 10 nominasi Festival Film Indonesia (FFI) 2017. There must be something about the movie. Setelah gue nonton, lalu gue mengerti kenapa.

Sebelum Posesif ini, gue ngga ngikutin film-filmnya Edwin. Padahal gue pengen banget nonton Someone’s Wife In The Boat of Someone’s Husband sama Postcards From The Zoo. Tapi kalau diliat dari perjalanan karirnya memang film-film karya Edwin banyak main di festival film internasional.

Balik lagi ke Posesif. Cerita film ini relatable banget sama kehidupan percintaan anak SMA (mungkin) di jaman gue dulu. Gue ngga tau anak SMA sekarang kayak gimana gaya pacarannya, tapi waktu gue SMA punya sahabat yang kurang lebih kisahnya mirip gini. Seringkali tanpa kita sadari abusive relationship itu bukan hanya soal fisik, tapi mental.

Continue reading

#DohaTrip2017 Day 1-3

Kayaknya gue akan bagi cerita selama #DohaTrip2017 ini ke dalam beberapa bagian since I am staying here for quite a lil’ while. Walaupun jurnal ketinggalan (sigh) tapi gue catet tiap harinya gue ngapain aja. Mostly doing house chores even though in between I got other stuff to do.

Day 1

I just landed in Doha. It was 1.15pm and quite a sunny day. Sekarang masuk Qatar bebas visa, walaupun petugas imigrasi pas gue itu kayaknya kurang yakin kalau Indonesia masuk ke dalam negara yang udah bebas visa. Jadi dia sempet ngeliatin gue lama seperti nunggu gue ngeluarin dokumen lain (mungkin visa yang ditunggu) tapi gue diem aja. Hahaha.. Setelah dia nanya temennya dan kayaknya temennya mengiyakan kalau bebas visa baru deh dia stempel paspor gue. My brother told me he’s gonna pick me up with the kids after school. Karissa and Keinara (later I mention them as K2) surprise liat gue yang dijemput. Walaupun katanya mereka udah curiga kalau gue mau datang. Ngga, emang anaknya gengsian aja kalau mengakui mereka kaget :D. Dari airport langsung ke rumah, K2 hari ini ada les tari di Al-Sadd tapi gue ga ikut anter. Mereka dijemput temennya kakak gue.

Oh iya, setelah sampe rumah gue ngga tidur tapi langsung beraktivitas kayak biasa. Ini gue lakukan untuk meminimalisir jet lag. Perbedaan waktu Jakarta dengan Doha disini 4 jam lebih lambat dari waktu Jakarta. So I force my body to adjust with the local time. Nanti pas malem, udah ngantuk banget baru tidur. Biasanya cara ini ampuh, jadi ga kelamaan jet lag nya. Habis maghrib gue pergi jemput anak-anak, setelah itu makan di Lagenda Holiday Villa up until 9.30pm-ish.

Continue reading

#DohaTrip2017

Hallo! Greetings from Doha, Qatar! Yes, I am currently in Doha, Qatar. Kali ini bukan untuk liburan, but to take care of my nieces while their Mom is still in Jakarta. Jadi kakak gue itu baru melahirkan bulan Juli lalu, belum bisa balik kesini sebelum bayinya umur tiga bulan. Sementara dua anaknya yang besar udah mulai sekolah dari awal September lalu.
Long story short, sementara ibunya di Jakarta dan kerjaan bapaknya bukan yang di kantor weekdays 9-5 (dan tiap hari pulang ke rumah), jadi ga ada yang jagain kalau bapaknya lagi kerja. Gantian lah anggota keluarga yang lain untuk jagain anak-anak ini di Doha. Sebulan kemarin ada kakek dan neneknya, permitnya udah habis karena hanya berlaku satu bulan. Sekarang lagi giliran gue di sini.

By the way, sekarang ke Qatar udah bebas visa ya. Tahun 2015 waktu gue pertama kesini masih harus pake visa. Di 2017 ini udah bebas visa dengan izin tinggal satu bulan.

I’ll update what I am doing here. Mostly doing house chores and taking care of the kids. Masak, siapin segala rupa buat anak-anak. Just like what other people doing here. I guess I act locally :D. Eh tapi gue seneng sih disini, walaupun sekarang cuacanya basian summer yang kadang siang-siang teriknya minta ampun.

And oh, bisa-bisanya gue lupa bawa jurnal. Tapi gue udah catet apa aja yang tiap hari gue kerjain di notes handphone. Mudah-mudahan keburu untuk update pas gue masih disini supaya ga basi topiknya.

That’s all for now, I’ll keep you updated πŸ™‚

Prgnncy Journey: Folikel Test Ke-2

Harusnya folikel test ke-2 ini dilakukan di hari ke-18 haid sesuai anjuran dokter. Tapi waktu mau daftar, di hari itu dr. Cindy ada operasi di RS jadi ngga praktek. Berhubung gue anaknya keukeuh maunya sama dia aja, nggak nyari yang deket rumah, jadi baru bisa ke dokter di hari ke-19. Gue pikir mudah-mudahan gak apa-apa ya beda sehari, hopefully it wouldn’t make a big difference. Sebetulnya sama suster di klinik disaranin kalo mau folikel aja bisa sama suaminya (yang kebetulan dokter kandungan dan praktek di tempat yang sama), tapi gue ngga mau. Gue anaknya konsisten. Alah…

Akhirnya di hari ke-19 balik lagi ke klinik, kali ini ngga bisa pagi karena lagi-lagi paginya dokter ada operasi jadi cuma bisa sore. Jadilah untuk pertama kalinya ke klinik sore dan for the very first time gue ngga dapet nomor urut satu. Hahahaha… Prestasi! Oia, Alhamdulillah berat badan udah turun perlahan tapi pasti walaupun sedikit. Zemangat! Terus baru kali ini juga selama visit dokter, dokternya datang agak terlambat. Harusnya praktek jam 5,hari itu dokter datang jam 5.30. Untung yang nomor 1 dan 2 tindakannya cepet, jadi ngga nunggu terlalu lama. Btw, gue dapet nomor antrian 3.

Continue reading

Prgnncy Journey: If Only I Could Care Less

Hari ini di Facebook nemu postingan ini. Di share sama teman satu tim waktu kerja di Global TV. Kebetulan dulu satu tim, kebetulan sama-sama udah nikah. Kebetulan punya kisah yang mungkin bisa dibilang hampir sama. Bedanya sekarang ikhtiar teman gue itu udah berhasil, sementara gue masih dalam proses.

Sebenernya gue udah ada dalam fase tidak nyaman dengan beragam pertanyaan soal anak. Bukan, bukan karena gue males jawabnya. Dengan senang hati gue akan jawab setiap ada yang nanya. Tapi kadang cara orang-orang bertanya (yang kadang dengan nada judging) yang justru bikin gue sakit hati. Mungkin gue yang terlalu sensitif atau mungkin juga orang lain yang kurang peka dengan hal-hal seperti ini. Gue ngga tau persis.

Entah berapa ratus pertanyaan yang udah gue terima sejak nikah tahun 2014. Isinya kurang lebih sama, “Udah isi belum? Udah punya anak?” and those kinda questions. Ga sedikit juga yang justru berujung judging atau nanya pertanyaan lain yang lebih menyakitkan ketika jawaban yang mereka terima (mungkin) mengecewakan yaitu kalau gue emang belum dikasih keturunan. Ga usah dijabarin lah apa aja reaksinya, ngingetnya aja gue males.

Continue reading