HOME

First, let me introduce you to Apit-Apiwit, my closest circle of friends since more than 20 years ago. Jangan tanya artinya apa, itu hanya kata spontan yang keluar dari mulut anak SMP waktu itu. I called them home, karena kepada orang-orang inilah gue akan selalu “pulang”.

Apit-Apiwit

There was a time when friends may come and go. Tapi pada akhirnya seleksi alam ga pernah bohong soal hasilnya. Hanya beberapa yang bertahan. Sisanya? Entah mereka yang pergi atau mungkin gue yang menjauh. Lebih dari 20 tahun kenal dengan orang-orang ini, dari jaman belum pada mimpi basah dan menstruasi sampai sekarang udah masuk generasi kedua. Masing-masing udah tau watak, karakter, kebiasaan tiap orang. Kekurangan dan kelebihan sih ga usah disebutin lah ya, kalo ga saling terima gue yakin ga akan bertahan selama ini.

Beboy-Kamga-Nisha-Bella-Jaki-Me

Masuk ke tahun kuliah, makin jarang ketemu, ada yang kuliah di Jakarta, di Bandung, di Sydney dan yang paling jauh di Swedia dan London. Waktu itu juga belum jamannya smartphone, otomatis chatting sama sahabat cuma bisa dilakukan kalau kita buka internet aja. Selebihnya mungkin telepati, and sense of belonging to each other yang akhirnya membawa kami pada pertemanan lebih dari 20 tahun. Seperti otomatis tau kemana harus “pulang”, kemana harus cerita momen-momen penting dalam hidup untuk pertama kalinya, kemana harus ngadu segala keluh kesah. We keep coming back tou our “home”

AA-3

Setelah “dewasa” lebih susah lagi untuk kumpul. Marriage life, job, dan hal-hal lainnya. Do we still know where to go? Exactly, we still coming back home. As we grow up, kita jadi tau banyak, kenal banyak, ngerasain banyak hal yang mungkin mengubah pola pikir, topik obrolan juga berubah walaupun kadang ngga ada faedahnya juga hahahahaha.

Ketika dewasa itu juga gue sadar apa yang akhirnya membuat pertemanan ini bisa bertahan. We never cross the line into personal things. Bukan ngga peduli, tapi ada kalanya ketika kita cerita hal yang sangat personal, yang kita butuhin hanya untuk didengerin bukan untuk ditanggapi apalagi diceramahin. We do sharing about anything and everything, tapi ketika masuk area pribadi ngga semua hal perlu ditanggapi. And I guess that’s what we are all about. Jadi pendengar aja kadang lebih dari cukup. Gue dan orang-orang ini tau kapan harus jadi pendengar, kapan harus jadi “penasehat”.

Gue yakin kita semua pasti punya something in common like this. Sekumpulan orang yang selalu ada, with their arms wide open to welcome us… For me, I undoubtedly say that Apit-Apiwit is my home…

You can’t choose your family. But you can choose your friends to be your family – Adenita, 9 Matahari-

SIGNATURE copy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s