Just My Two Cents

Selain toko buku, yang bikin gue happy dan betah berjam-jam di dalamnya adalah berada di toko musik. Atau dulu gue nyebutnya toko kaset. Kebiasaan ini lagi-lagi turun dari bokap yang emang suka dengerin musik. Jadi dulu ritualnya abis dari toko buku, kita ke toko kaset (pada jaman itu masih kaset). Sama kayak di toko buku, gue dan kakak gue bebas beli apa aja.

Makin gede makin ngerti sukanya musik apa, lagu yang gimana dan apa yang mau dibeli. Tapi waktu beranjak besar, bokap bilang coba usaha sendiri kalo mau beli kaset. Caranya macem-macem, dari mulai nyisihin uang jajan sampe jualan. Jualan gue macem-macem, yang gue inget bikin gantungan tas dari pita. Harga kaset waktu gue SD masih 4.000, mulai SMP udah 13.000an kalo kaset musisi luar 18.000an. Beranjak SMA naik lagi jadi 20.000an. Gue masih inget, waktu mulai ABG dan udah ngerti sedikit soal musik kaset pertama yang gue beli itu Dewa 19 album Pandawa Lima, yang kedua Potret album II.

Dari sejak itu, gue suka ke toko musik. Entah cuma liat-liat, atau ujungnya beli. Pokoknya ke toko musik ga pernah kelewat kalo lagi ke mall. Di toko musik waktu itu masih bisa dengerin dulu kaset/cd yang mau kita beli. Ada player dan headphonenya. Seru lah pokoknya di jaman itu.

Lalu mulai beranjak ke digital. Gue punya iPod di tahun 2005, iPod nano dikasih sahabat gue. Ga ada angin ga ada ujan, tiba-tiba dia kasih iPodnya. Alasannya karena dia mau beli yang iPod video edisi U2 jadi yang nano dia kasih ke gue. Alhamdulillah. Walaupun pada akhirnya itu iPod hilang waktu gue mau ke KL, kayaknya jatoh waktu lagi gue pangku. Sedihnya ya Allah.. Oh iya, sejak era iPod ini juga gue mulai bertekad kalo ngga akan masukkin lagu bajakan ke dalem iPod.

Sejak punya iPod itu pula gue mulai beli CD original. Demi tekad ga masukkin lagu bajakan ke iPod. Alasannya ya karena itu cara gue menghargai karya orang. Usaha terkecil yang bisa gue lakukan dengan cara beli karya originalnya. Kenapa segitu keukeuhnya ga mau masukkin lagu bajakan? Gue berteman atau bahkan bersahabat dengan beberapa orang musisi. Dari situ gue ngerti susahnya bikin album atau punya karya. I was there in their sleepless night doing recording, waktu workshop bikin lagu. Or even just accompany them to some gigs. Ya ga sepenuhnya selalu ada sih, tapi at least I know the process to make “something”.

Selain itu, beli CD original juga menurut gue investasi. Waktu beli mungkin terasa mahal, apalagi sekarang banyak platform legal digital yang kita bisa unduh, cukup bayar langganan per bulan udah bisa nikmatin ratusan bahkan ribuan lagu. Tapi poinnya menurut gue ngga disitu. Ada kepuasan tersendiri ketika lo pegang rilisan fisik. In the next ten or twenty years from now, when you want to listen, just put it back on your player and enjoy it! It will plays with its memories. Sensasi ketika lo buka cover albumnya, baca thanks to, dan baca lirik lagu tanpa perlu buka internet. Those kind of feelings that you won’t get in digital release. Dan sebagai bukti otentik sebuah masa dalam industri musik itu sendiri. Suatu saat lo bisa cerita ke anak cucu lo “Ini lho dulu aku dengernya ini…”

Kemarin sore gue ke salah satu mall, dari rumah gue udah niat mau ke salah satu toko musik (yang masih buka), mau cari-cari yang “aneh”. Kali aja nemu apa gitu kan. But what I found is, toko musiknya menyedihkan lah kalo diceritain. Ya gue emang masih betah nyusurin satu-satu rak yang ada disana, tapi kalo liat lagi kondisinya ya ampun beneran deh.. Udah ilang masa kejayaan rilisan fisik, tergerus era digital. CD udah pada debuan, koleksinya ngga update lagi. Rak banyak yang kosong. I even doubt they will survive for the next six months. Walaupun gue bahagia karena nemu album Sova: Tempo Tantrum dan KLa Project: Best Cuts.

I am not against those legal digital platforms. I subscribed. I pay monthly. Tapi tetep aja beda rasanya, ga se-excited ketika gue beli rilisan fisik. Jujur gue khawatir sih kalo lama-lama rilisan fisik juga hilang dan berubah jadi digital semua. Apa yang bakal gue simpen kalau rilisan fisik hilang? Semoga aja ngga ya…

Ini cuma tulisan kekhawatiran dan kemirisan gue yang masih analog di era yang sudah sangat digital ini. Just my two cents..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s