Filosofi Kopi 2: Ben & Jody

NO SPOILER ALERT!!!

Dee Lestari. Salah satu penulis Indonesia favorit gue. Tapi anehnya, buku Dee yang paling hits, serial Supernova, justru satu-satunya yang ngga gue ikutin. Dulu pernah baca, sekitar tahun 2002. Seri pertama Supernova, mungkin waktu itu gue masih terlalu kecil untuk memahami isinya. Jadinya malah jadi ngga tertarik ngikutin seri berikutnya. Mungkin harus coba baca ulang sekarang, siapa tau lebih ngerti. Tapi lain dengan karya Dee lainnya, gue selalu beli pada saat baru diluncurkan. Rectoverso misalnya, udah kayak kitab kegalauan gue di masa lalu. Hahahaha.. Buku Perahu Kertas gue udah ga tau bentuknya kayak apaan saking bolak-balik di baca ulang terus.

Dari sekian film adaptasi novel Dee, yang paling gue suka Rectoverso dan Filosofi Kopi. Somehow, Madre dan Supernova malah hilang ngga berjejak di ingatan gue. I have an issue with novel-based movie, entah karena emang gue lebih suka baca, atau kadang hasil filmnya jauh dari imajinasi gue ketika baca novelnya. Bukan sesuatu yang seharusnya dibandingin sih, tapi sebagai pembaca rasanya wajar punya imajinasi dan ekspektasi sendiri soal film yang di adaptasi dari novel.

Perkenalan gue dengan film Filosofi Kopi sebenernya bisa dibilang terlambat. Pada waktu tayang di bioskop justru gue ngga nonton. Pertama kali nonton justru di TV waktu tahun baru tahun berapa ya lupa. Then I fall in love. Salah satu karya adaptasi terbaik menurut gue.

Tahun ini Filosofi Kopi hadir lagi. Kali ini bukan lanjutan adaptasi dari cerpen, tapi pengembangan karakter dan cerita dari cerpen Filkop-nya Dee. Karena suka dengan Filkop 1, maka gue niat untuk nonton yang kedua ini. Gue nonton ya sendiri, seperti biasa. Pandu anaknya ga asik buat diajak nonton film Indonesia hahahaha.. Durhako kau Areta, padahal itu uang jajan dari suami. Ya Allah maafkan.. Tapi emang kalo nunggu dia mau nonton yang ada gue itu filosofi udah keburu jadi kebun kopi. Lamaaaaaaa… So, these are what I like about the movie. Enjoy!

 

Cerita

Karena bukan lagi film adaptasi, maka kali ini gue lebih santai nontonnya. Karena ngga pake ekspektasi apa-apa dibandingin di buku. Filkop 2 ini justru menarik karena semua diramu secara pas. Dari segi dramanya, kisah persahabatan Ben & Jody, amarah, ambisi, percintaan sampai konflik yang jadi twist di film ini semua pas. Ga berlebihan. Poin ini jadi nilai plus karena kita ngga sempat ngerasa bosen dalam satu plot tertentu. Alurnya lumayan cepat. Yang gue suka, celetukan antara Ben & Jody yang bikin kita percaya kalau dua orang ini emang udah bersahabat seumur hidup. Oia, film ini juga membuktikan kalo cerita cinta ngga selalu perlu dibalut adegan ciuman kok. Kudos to Jenny Jusuf dan Irfan Ramly.

Pemeran

Chemistry Rio & Chicco udah teruji di Filkop 1, jadi udah lah ya kelar lah bagian itu sih. Tom & Jerry sih tetep, tapi tetep bikin senyum-senyum sendiri kok. Surprisingly Luna Maya main sangat apik disini. Gue bahkan lupa kalo Luna Maya itu aktris, film terakhir dia yang gue tonton apa ya? Lebih lupa lagi kayaknya. Tapi Filkop 2 ini bisa jadi her marks to come back to the industry. Nadine Alexandra sebagai Brie juga cukup mencuri perhatian, tapi sayang menurut gue porsinya agak kurang banyak, seharusnya mungkin bisa digali lebih banyak dan lebih dalam lagi. Brie ini juga menghapus stereotype kalau perempuan bisa asyik tanpa harus “gondrong” (istilahnya Ben & Jody), kulit putih, langsing. Hahahaha.. Curhatan gue kalo ini. Jajaran cameo juga pas, ngga segerombolan semua orang diajak main. Tio Pakusadewo, Joko Anwar, Ernest Prakasa dan Melissa Karim muncul di saat yang tepat dan porsi yang sesuai.

Sinematografi

Angga Sasongko tau betul cara menyajikan beauty shot sesuai keperluan. Ngga perlu berlebihan mengekspos sesuatu, misal untuk aerial shot perkebunan kopi. Tapi pengambilan gambar secara detail juga diperhatiin. Tone colornya gue suka. Sebenernya gue udah suka karyanya Angga Sasongko dari jaman dia bikin video klip Maliq & D’Essentials yang Coba Katakan sih, terlihat sederhana tapi cantik.

Secara keseluruhan, Filosofi Kopi 2: Ben & Jody ini layak banget ditonton. Perfecto! Seperti racikan kopi buatan Ben hehehehe… Dengan ini Filosofi Kopi 1 dan 2 masih jadi salah dua film Indonesia favorit gue. Silakan melipir ke bioskop, mumpung belum turun layar…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s