Jelita Sejuba, Mencintai Ksatria Negara

Salah satu keputusan tepat yang gue bikin di minggu ini untuk nonton Jelita Sejuba diantara film Indonesia lainnya yang lagi tayang di bioskop. If you wanna know why, here we go…

Continue reading

Advertisements

Sudan, The Last Male Standing

Sudan…

No, we are not talking about Sudan the country. But here we are talking about Sudan , the last male white northern rhino in the world. He was once at the Safari Park Dvůr Králové in Czech Republic before finally moved to Ol Pejeta Conservancy Kenya back in 2009 to avoid extinction of his species. But unfortunately he died at he age of 45 last March 19 due to his health condition. The last 24 hours of his life significantly worsened, he was even unable to stand. So the veterinary team decided to euthanize him. Sudan’s death remarks that his species, male northern rhino, is officially extinct.

Extinct. You don’t hear it wrong. In a world with billions people, we are witnessing a species extinct. Don’t you just heard extinction when we were a kids? This news suddenly makes me dig more about Sudan. I read many articles, videos related to Sudan and I feel really sorry for his death even though I know it’s too late. Can you imagine in the near future when we are telling bedtime story to our kids it would be started with “Once upon a time, there was a white northern rhino…”???

Continue reading

Dilan 1990

No Spoiler Alert!

One of the most anticipated 2018 Indonesian movie is finally here. Dilan 1990, first series of the trilogy (Dilan 1990, Dilan 1991, Milea). Iqbaal Ramadhan (formerly known as Iqbal CJR) as Dilan, Vanesha Prescilla as Milea, the main character created and written by Pidi Baiq. Film ini diangkat dari buku dengan judul yang sama. Gue salah satu pembaca buku-bukunya Pidi Baiq dari Drunken Master sampe akhirnya si Dilan ini jadi bukunya yang paling hits.

Jujur waktu trailernya rilis gue ragu apakah Iqbal bisa jadi Dilan. Jaman gue kerja di tv, gue lumayan tau ini anak kayak gimana. Beberapa kali pegang program yang ada CJR dan kebetulan gue didapuk jadi tim kreatifnya. Ini anak emang sungguh anak soleh nan baik hati, such a sweetheart and truly a boy next door. Adzan teng dese langsung ambil air wudhu! Jujur trailernya buat gue ngga menarik dan ngga meyakinkan, sampe akhirnya gue sempet bingung mau nonton apa nggak.

Continue reading

Susah Sinyal

No Spoiler Alert!

Film ketiga Ernest Prakasa ini mulai dirilis 21 Desember 2017 kemarin. Jujur gue pengen nonton ini for the sake of… Refal Hady! Hahahaha receh ya alasannya. Tapi memang gue bukan fans film Ernest garis keras. Dua film Ernest sebelumnya, Ngenest dan Cek Toko Sebelah (CTS) gue baru nonton setelah rilis di Hooq. Dua film sebelumnya pula Ernest ga lepas dari cerita keluarga keturunan di Indonesia. Katanya Susah Sinyal ini beda, keluar dari zona nyamannya. Oke lah, kalo gitu mari kita tonton.

Film berdurasi 110 menit ini cukup bikin gue ketawa walaupun kadang lawakan khas stand up comedy yang disajikan gue ngga ngerti. Oh iya, gue juga ga punya ekspektasi apa-apa soal film ini. Disaat semua orang (mungkin) mengharapkan film ini at least sama lucu dan mengesankannya dengan CTS, gue ngga.

Continue reading

Mixtape 3: Indonesian Pride

Waaaah.. Udah lama juga ga bikin mixtape. Sebenernya karena lagi jarang dengerin yang baru-baru sih alias playlist gue ya itu lagi itu lagi. Hehehehe… Tapi beberapa minggu belakangan ada yang menarik di playlist gue yaitu tambahan lagu-lagu Indonesia yang ga berenti gue dengerin. There must be something with these songs. And I have to share it with you.. Here we go!

1. Adrian Khalif feat. Dipha Barus – Made In Jakarta

Pertama kali denger lagu ini jujur kayak bukan lagu Indonesia, reminds me a lil’ bit of Craig David back in the days. Gue udah sempet denger soal Adrian Khalif ini tapi belum sempet cek lagunya. Akhirnya suatu hari tiba-tiba keinget dan langsung buka Youtube, and I like it from the very first impression. Ternyata featuring sama Dipha Barus, yaudah lah ya kelar. You might check this one out..

2. Dipha Barus feat. Nadin – It’s All Good

Dipha Barus has a golden hands. Everything he touches just like turns into gold. Iya ngga sih? Dia bikin apa aja bagus kayaknya, kayak Gamaliel. Bikin No One Can Stop Us bagus, bikin remake Aku Wanita-nya BCL juga bagus, terus sekarang si All Good ini. Ngga ngerti gue.. Hehehehe.. Dan iya gue telat lagi denger lagu ini, but turns out I like it and automatically put this one on my playlist. Oh iya, lagu ini ada acoustic versionnya juga dan ga kalah bagus sama original version ini. And Nadin is such a big thing in the near future.

3. Nino & Nagita – Benar Nyata

Wow! Surprise! Single solo pertama Nino RAN ini gandeng Nagita Slavina sebagai temen duetnya. Lagunya sendiri diciptain sama Widi Puradiredja (Maliq & D’Essentials) ga salah emang lagunya typical Widi banget, I can hear it from the first time. And surprisingly Nagita performs really well, asik banget suaranya disini. Ga nyangka juga sih kalo dia bisa sebagus ini di lagu ini, it feels like this song suits them both. Great job, Nino!

4. Gloria Jessica – I Just Wanna Love You

Gloria Jessica stole my attention for the first time when she joined The Voice Indonesia and performs her rendition of Coldplay’s Sky Full of Stars. Tapi justru setelah itu dia ngga lanjut ke babak selanjutnya. But it proves us that it doesn’t have to be a winner to gain success. Single pertamanya Dia Tak Cinta Kamu bisa dibilang lumayan sukses. Gue denger lagu ini pertama kali lewat iklan di Spotify yang cuma secuil itu, tapi dari yang cuma secuil itu justru bikin gue nyari lagu ini. Eh ternyata waktu itu baru bisa di unduh beberapa hari setelahnya, di Youtube juga belum ada. Gue penasaran banget sama keseluruhan lagunya, yang ternyata baguuuuus. You better check yourself..

Tentang Buku

Beberapa waktu lalu gue in a desperate needs of having a new book. Alasannya sederhana, ga punya bacaan baru. Padahal sih ada dua buku yang gue beli bulan lalu tapi belum dibaca. Sempet juga ke toko buku weekend lalu, terus buku yang gue pengen beli harganya super mahal (karena buku impor). Akhirnya gue mikir bisa ngga sih beli buku impor online tapi yang tokonya terpercaya. Lalu gue Googling beberapa toko buku impor yang ada di Indonesia, barangkali sekarang punya layanan beli online.

Akhirnya nemu lah si Periplus online ini, setelah cari judul buku yang gue mau ternyata ada, harganya jauh lebih murah pun. Ya sudah gue coba lah beli di Periplus online ini, ternyata prosesnya lumayan cepat. Dari mulai order sampai bukunya ada di tangan gue cuma makan waktu tiga hari, itu pun karena gue ordernya udah malem kayaknya. Jadi asumsi gue, order gue masuk ke pengiriman besoknya.

Gue tipikal orang yang harus selalu punya bacaan, entah itu buku (novel) atau paling tidak majalah. Walaupun sekarang udah jarang banget beli majalah. But I have to have something to read. Buku buat gue bukan sekedar kebutuhan, tapi juga memori.

Back in the days waktu bokap gue masih ada, kita selalu pergi ke toko buku setiap weekend. Like almost every weekend. Mau jalan-jalan kemana pun pasti mampir dulu ke toko buku. My late Dad once said “You can only have toys once in a while. But you can have books anytime you want”. Bokap gue ngga pernah bilang ngga setiap kali gue minta dibeliin buku. Setiap di toko buku pun bokap ngga pernah membatasi jumlah buku yang gue dan kakak gue beli. Dia bilang ga ada batasan untuk buku, dia selalu ingin anaknya suka baca buku. Seringnya gue beli novel dan kakak gue beli komik.

Kebiasaan ini dibawa sampai sekarang. Sampai kadang Pandu ngedumel karena gue keseringan beli buku. Mungkin dia kesel karena dia ga suka baca buku hahahahaha.. Setiap gue beli buku pasti dia liat-liat buku terus komentar “Apaan sih ini tulisan semua. Ngga menarik. Sekali dibaca udah gitu doang disimpen lagi”. Ngeselin abis.. Akhirnya gue bilang sama dia kalau ini adalah kebiasaan gue dari kecil. Gue ngga pernah dilarang beli buku. Selain itu, dengan tetap membaca (dan beli buku) I feel like I am living a bit of my Father inside me. Itu salah satu cara gue mengingat bokap. Dari situ dia mengerti.

By the way, gue suka baca tapi gue ngga bisa baca komik. I know it’s weird. Ga bisa karena gue ngga ngerti cara bacanya, apalagi kalau komiknya isinya gambar semua ga ada kotaknya. Terus si bubble-bubble tulisannya menclak-menclok. Bye! Makin ga bisa gue baca. Selain itu gue merasa kalo semua tokoh yang ada di komik itu mukanya sama, gue ga bisa bedain. Hahahaha.. Komik yang bisa gue baca cuma Doraemon, Crayon Sinchan sama Monika. Udah itu aja. Dulu pernah beli Candy-Candy, Topeng Kaca dan coba baca Detektif Conan. Ya cuma sampai halaman lima kali bertahannya.

Sebenernya mulai tahun ini gue mulai membiasakan diri lagi untuk rutin baca. At least satu buku per bulan karena beberapa tahun belakangan jujur gue ngga banyak baca buku. Ada keresahan ketika gue yang notabenenya pengangguran ini ngga punya asupan bacaan yang menurut gue cukup. Jadi merasa lebih useless. Hehehehe… Mudah-mudahan gue bisa konsisten ya.

Itulah cerita singkat gue dan buku. Semoga kalau nanti gue punya anak, gue bisa mewariskan lagi kebiasaan ini sama anak gue. Jangan ikut bapaknya yang sukanya cuma baca buku kalo ada gambarnya.

 

Film Posesif

No Spoiler Alert

Beberapa hari lalu gue nonton Posesif, sendiri seperti biasa. Gue keukeuh banget harus nonton film ini di hari kedua pemutarannya. Entah kenapa gue penasaran sama film ini. Selain promonya emang kenceng, gue pengen tau kenapa film ini belum tayang di bioskop (besar) tapi udah dapet 10 nominasi Festival Film Indonesia (FFI) 2017. There must be something about the movie. Setelah gue nonton, lalu gue mengerti kenapa.

Sebelum Posesif ini, gue ngga ngikutin film-filmnya Edwin. Padahal gue pengen banget nonton Someone’s Wife In The Boat of Someone’s Husband sama Postcards From The Zoo. Tapi kalau diliat dari perjalanan karirnya memang film-film karya Edwin banyak main di festival film internasional.

Balik lagi ke Posesif. Cerita film ini relatable banget sama kehidupan percintaan anak SMA (mungkin) di jaman gue dulu. Gue ngga tau anak SMA sekarang kayak gimana gaya pacarannya, tapi waktu gue SMA punya sahabat yang kurang lebih kisahnya mirip gini. Seringkali tanpa kita sadari abusive relationship itu bukan hanya soal fisik, tapi mental.

Continue reading